Keadaan Umum Wilayah PDF Print E-mail

Letak dan Kondisi Wilayah Geografis

Luas wilayah BPDAS Pemali Jratun berdasarkan hasil revisi batas DAS tahun 2009  adalah 1.697.484,931 yang meliputi wilayah Jawa Tengah bagian Utara (pantura) dan Kepulauan Karimunjawa.

Secara geografis wilayah BPDAS Pemali Jratun terletak pada posisi koordinat 108° 41' 51'   s/d    111° 41' 42' Bujur Timur  dan  5° 43' 31''   s/d    7° 27' 44'' Lintang Selatan.   Dengan batas wilayah  sebagai berikut :

  • Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur (BPDAS Solo)
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa,
  • Sebelah Barat berbatasan Propinsi Jawa Barat (BPDAS Cimanuk CItanduy)
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan BPDAS Serayu Opak Progo

 

Batas Wilayah Administrasi

Secara utuh hasil tumpang susun antara batas DAS hasil revisi tahun 2009 dengan batas administrasi, wilayah administrasi yang masuk kedalam wilayah kerja BPDAS Pemali Jratun terdiri dari 25 Kabupaten dan 4 Kota. Sedangkan wilayah administrasi yang dikoordinir oleh BPDAS Pemali Jratun sejumlah 15 Kabupaten dan 4 Kota. Hal ini disesuaikan dengan prosentase cakupan luas wilayah yang lebih dari 50 % dari luas wilayah administrasi yang bersangkutan.

Prosentase wilayah administrasi secara keseluruhan yang masuk kedalam batas wilayah BPDAS Pemali Jratun dapat dilihat pada table 4.1 berikut ini:

 

Tabel : 4.1 . Prosentase luas wilayah administrasi yang masuk ke BPDAS Pemali Jratun

No

Kabupaten/Kota

Provinsi

Prosentase

1

Banjarnegara

Jawa Tengah

0,4

2

Banyumas

Jawa Tengah

0,2

3

Batang

Jawa Tengah

98,2

4

Blora

Jawa Tengah

51,0

5

Boyolali

Jawa Tengah

50,5

6

Brebes

Jawa Tengah

97,2

7

Cilacap

Jawa Tengah

0,1

8

Demak

Jawa Tengah

100,0

9

Grobogan

Jawa Tengah

100,0

10

Jepara

Jawa Tengah

100,0

11

Kendal

Jawa Tengah

100,0

12

Kudus

Jawa Tengah

100,0

13

Kuningan

Jawa Barat

0,1

14

Magelang

Jawa Tengah

0,1

15

Pati

Jawa Tengah

100,0

16

Pekalongan

Jawa Tengah

100,0

17

Pemalang

Jawa Tengah

100,0

18

Purbalingga

Jawa Tengah

0,7

19

Rembang

Jawa Tengah

89,8

20

Semarang

Jawa Tengah

92,1

21

Sragen

Jawa Tengah

13,6

22

Tegal

Jawa Tengah

100,0

23

Temanggung

Jawa Tengah

33,7

24

Tuban

Jawa Timur

1,5

25

Wonosobo

Jawa Tengah

0,1

26

Kota Semarang

Jawa Tengah

100,0

27

Kota Pekalongan

Jawa Tengah

100,0

28

Kota Salatiga

Jawa Tengah

100,0

29

Kota Tegal

Jawa Tengah

100,0

Sumber : Analisa Peta DAS dan Administrasi Skala 1 : 50.000 Wilayah BPDAS Pemali Jratun Revisi tahun 2009

Sedangkan wilayah administrasi yang dikoordinir oleh BPDAS Pemali Jratun selengkapnya dapat dilihat pada table 4.2 berikut ini:

 

Tabel : 4.2 . Wilayah administrasi yang dikoordinir  BPDAS Pemali Jratun

No

Kabupaten/Kota

Provinsi

Prosentase

1

Batang

Jawa Tengah

98,2

2

Blora

Jawa Tengah

51,0

3

Boyolali

Jawa Tengah

50,5

4

Brebes

Jawa Tengah

97,2

5

Demak

Jawa Tengah

100,0

6

Grobogan

Jawa Tengah

100,0

7

Jepara

Jawa Tengah

100,0

8

Kendal

Jawa Tengah

100,0

9

Kudus

Jawa Tengah

100,0

10

Pati

Jawa Tengah

100,0

11

Pekalongan

Jawa Tengah

100,0

12

Pemalang

Jawa Tengah

100,0

13

Rembang

Jawa Tengah

89,8

14

Semarang

Jawa Tengah

92,1

15

Tegal

Jawa Tengah

100,0

16

Kota Semarang

Jawa Tengah

100,0

17

Kota Pekalongan

Jawa Tengah

100,0

18

Kota Salatiga

Jawa Tengah

100,0

19

Kota Tegal

Jawa Tengah

100,0

Sumber : Analisa Peta DAS dan Administrasi Skala 1 : 50.000 Wilayah BPDAS Pemali Jratun Revisi tahun 2009

 

Morfometri Daerah Aliran Sungai

Sungai yang mengalir ke pesisir Utara Jawa Tengah berpola drainase dendritik dan bermuara di laut Jawa. Perairan disepanjang pesisir Jawa Tengah merupakan hutan Mangrove, dimana terjadi pertemuan air asin dari air laut dengan air tawar dari beberapa sungai disepanjang muara tersebut. Mangrove tumbuh ditempat air tenang muara sungai yang merupakan pertemuan arus laut dan sungai yang menyebabkan endapat lumpur disekitar muara sungai yang mengakibatkan pendangkalan sungai dan memungkinkan terbentuknya gosong-gosong baru.

Debit sungai sangat dipengaruhi oleh luapan air DAS yang bersangkutan, sepanjang sungai utama, intensitas curah hujan, kelas kelerengan/fisiografi lahan, jenis tanah dan poenutupan lahan.

Wilayah BPDAS Pemali Jratun berdasarkan hasil revisi batas DAS tahun 2009 terdiri dari 7 Satuan Wilayah Pengelolaan (SWP) , 134. DAS dan 69 Sub DAS. Selengkapnya disajikan pada Tabel : 4.3.

 

Tabel : 4.3 . Luas masing-masing SWP di wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

SWP DAS

Jumlah DAS

Jumlah Sub DAS

Luas Ha

1

Bosok Pemali

8

9

193.749

2

Banger Blukar

20

-

210.881

3

Bodri Jragung

8

17

206.660

4

Gandu Suwaduk

36

-

106.259

5

Tuntang

1

8

130.037

6

Serang

1

24

401.235

7

Juwana

1

6

130.391

8

Gangsa Comal

13

5

201.434

9

Jabangbayi Temperak

20

-

112.091

10

Karimunjawa

25

-

4.747

 

Total

 

 

1.697.485

Sumber : Analisa Peta DAS Skala 1 : 50.000 Wilayah BPDAS Pemali Jratun Revisi tahun 2009

 

Bentuk Lahan

Berdasarkan bentuk lahan wilayah BPDAS Pemali Jratun terbagi kedalam  7 bentuk lahan yaitu Dataran, dataran alluvial, kipas dan lahar, lembah alluvial, rawa pasang surut, perbukitan an pegunungan. Data bentuk lahan untuk seluruh wilayah BPDAS Pemali Jratun dpat dilihat pada Tabel : 4.5.

Tabel : 4.5. Data Bentuk Lahan Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Bentuk Lahan

Luas Ha

Prosentase

1

Dataran

597.753

35

2

Dataran Aluvial

492.982

29

3

Kipas dan Lahar

96.926

6

4

Lembah Aluvial

10.505

1

5

Pegunungan

198.472

12

6

Perbukitan

257.300

15

7

Rawa pasang surut

43.547

3

Jumlah

1.697.485

100

Sumber : Analisa Peta Land System Skala 1 : 250.000 Provinsi Jawa Tengah

 

Topografi

Berdasarkan bentuk topografi, wilayah BPDAS Pemali Jratun sebagian besar merupakan daerah berfisiografi dataran sekitar 74 % dari luas wilayah selebihnya berfisiografi perbukitan dan pegunungan. Pegunungan berada pada bagian selatan dan bagian utara merupakan daerah pantai. Tinggi tempat mulai dari 0 m s/d 3400 m dpl.

Adapun kondisi kemiringan lahan mulai dari datar 68,06 %, landai 11,66%, agak curam 8,39%, curam 5,85%, dan sangat curam 6,04%Selengkapnya data tersaji pada Tabel : 4.4

 

Tabel : 4.4. Data Kelerengan Lahan Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Kelerengan

Luas Ha

(%)

Sebaran

1

Datar

1.154.163

68

Meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung.

2

Landai

197.837

12

Meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

3

Agak Curam

142.453

8

Meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes,  Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

4

Curam

99.474

6

Meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Tegal dan Temanggung

5

Sangat Curam

103.558

6

Meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Tegal dan Temanggung

 

Jumlah

1.1.697.485

100

 

Sumber : Analisa Peta Lereng Skala 1 : 25.000 BPDAS Pemali Jratun

 

Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang disuatu daerah tertentu . Menurut ketentuan jangka waktu tersebut adalah selama 30 tahun.

Jumlah bulan kering antara 0 - 9 bulan dan bulan basah antara 1 - 12 bulan. Keadaan suhu udara terendah mulai dari 13°C dan suhu tertinggi mencapai 36°C.

Curah hujan rata-rata tahunan diwilayah BPDAS Pemali Jratun berkisar antara 1000 mm s/d 7000 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata tahunan berkisar antara 102 s/d 169 hari hujan. Dengan curah hujan pada bulan kering kurang dari 60 mm, bulan lembab antara 60-100 mm dan bulan basah lebih dari 100 mm. Bulan kering (curah hujan rata-rata bulanan < 100 mm) dan total curah hujan tahunan > 2.500 mm/th maka tipe iklim menurut Smith dan Ferguson wilayah BPDAS Pemali Jratun termasuk tipe A, tipe B, tipe C dan tipe D.

Iklim Tipe A meliputi sebagian Kabupaten Batang, Brebes, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Temanggung dan Wonosobo. Iklim Tipe B meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung. Iklim Tipe C meliputi sebagian Kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen dan Tegal. Dan Iklim Tipe D Meliputi sebagian Kabupaten Pemalang.

Selengkapnya data tipe iklim  tersaji pada table 4.6 berikut ini:

 

Tabel : 4.6. Data tipe iklim Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Tipe Iklim

Luas Ha

Prosentase

1

Tipe A

128.562

7,59

2

Tipe B

986.219

58,23

3

Tipe C

582.352

34,30

4

Tipe D

352

0,02

JUMLAH

1.697.485

100,00

Sumber : BMG Provinsi Jawa Tengah tahun 2007

 

Jenis Tanah

 

Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi, sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term).

Tanah terbentuk dari suatu bahan induk yang mengalami pelapukan. Proses terbentuknya tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor bahan induk, iklim, waktu, mikro organisme dan lereng. Proses pembentukan tanah disuatu daerah erat hubungannya dengan sejarah pembentukan tanah atau evolosi tanah.

Jenis tanah di wilayah BPDAS Pemali Jratun didominasi oleh jenis tanah Latosol seluas 610.767,80 ha atau 35% dan Aluvial seluas 550.707,24 ha atau 32,44% selanjutnya diikuti oleh grumusol seluas 209.879,50 ha atau 12,36% dan sisanya jenis tanah litosol, mediteran regosol dan podsolik. Selengkapnya sebagai berikut:

1. Tanah Alluvial (tanah endapan)

Tanah Alluvial adalah tanah yang terbentuk dari hasil pengendapan lumpur sungai yang terdapat di dataran rendah. Tanah ini tergolong sangat subur dan baik untuk daerah pertanian padi. Terdapat di sebagian kabupaten  Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, dan Tegal.

2. Tanah Podzolit

Tanah podzolit adalah tanah yang terbentuk di daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan suhu udara rendah. Di Indonesia jenis tanah ini terdapat di daerah pegunungan. Tanah podzolit tergolong subur.Tanah ini ter dapat dipegunungan seperti sebagian kabupaten Brebes dan Pemalang.

3. Tanah Regosol (tanah pasir )

Tanah pasir terbentuk dari pelapukan batuan beku dan batuan sedi- men. Ciri tanah pasir ialah berkerikil dan butirannya kasar. Tanahnya tidak subur, sehingga kurang baik untuk pertanian. Terdapat di sebagian kabupaten Batang, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Semarang, Kota Tegal, Pati, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen dan Tegal.

4. Tanah Mediteran (tanah kapur)

Tanah mediteran adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan kapur. Tanahnya tidak subur, akan tetapi cocok untuk tanaman jati. Jenis tanah ini terdapat di sebagian kabupaten Blora, Grobogan, Kendal, Kota Semarang, Kudus, Pati dan Rembang.

5. Tanah Grumosal (tanah margalit)

Tanah kapur dan batuan gunung api yang memiliki curah hujan yang tinggi.Tanah ini halus berwarna abu-abu kehitaman, cocok untuk tanaman kapas, jagung, kedelai dan tebu. Terdapat di sebagian kabupaten Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Semarang, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Sragen, Tegal dan Temanggung

6. Tanah Litosol

Tanah Litosol, yaitu tanah yang baru mengalami pelapukan dan sama sekali belum mengalami perkembangan tanah. Berasal dari batuan-batuan konglomerat dan granit, kesuburannya cukup, dan cocok dimanfaatkan untuk jenis tanaman hutan. Terdapat di sebagian kabupaten Blora, Brebes, Grobogan, Pati, Rembang, Sragen dan Tegal.

7. Tanah Latosol

Umumnya bahan induk vulkanik baik tuff maupun batuan beku. Meliputi tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan intensif. Telah mengalami pencucian unsur-unsur basa, bahan organik dan silika. Tekstur lempung hingga geluh, struktur remah hingga gumpal lemah, dan konsistensi gembur. Tanah ini banyak dijumpai di sebagian kabupaten Batang, Boyolali, Brebes, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung.

Menurut sistem klasifikasi USDA, jenis tanah didaerah Jawa Tengah dengan berdasarkan 3 tipe land system yaitu PTG, KHY, KJP, bervariasi mulai dari tropopsamment, tropaquent, hidratquent, sulfaquent, fluvaquent dan tropohemist yang terbentuk dari batuan induk aluvium halus dengan tekstur mulai dari agak kasar sampai gambut halus. Selengkapnya disajikan pada table 4.7 berikut ini:

 

Tabel : 4.7. Jenis Tanah di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Jenis Tanah

Luas Ha

Prosentase

Sebaran

1

Aluvial

551.206

32,47

Meliputi sebagian kabupaten  Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang dan Tegal.

2

Grumusol

209.879

12,36

Meliputi sebagian kabupaten Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Semarang, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Sragen, Tegal dan Temanggung

3

Latosol

610.495

35,96

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Boyolali, Brebes, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus,   Pati, Pekalongan, Pemalang,  Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung.

4

Litosol

112.017

6,6

Meliputi sebagian kabupaten Blora, Brebes, Grobogan,  Pati, Rembang, Sragen dan Tegal

5

Mediteran

95.128

5,6

Meliputi sebagian kabupaten Blora, Grobogan, Kendal, Kota Semarang, Kudus, Pati dan Rembang

6

Podsolik

2.340

0,14

Meliputi sebagian kabupaten Brebes dan  Pemalang.

7

Regosol

116.419

6,86

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Semarang, Kota Tegal,  Pati, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen dan Tegal

 

Jumlah

1.697.485

100

 

Sumber : Analisa Peta Tanah Skala 1 : 250.000 Provinsi Jawa Tengah

 

Penggunaan Lahan

Pola tata guna lahan suatu daerah akan sangat berpengaruh terhadap aliran permukaan (run off), daya erosi dan debit sungai yang terdapat didaerah tersebut. Seperti halnya sawah yang terdapat pada lereng curam, walaupun ada masukan (input) berupa penterasan yang baik akan berdampak negatip terhadap lingkungan.

 

Tabel : 4.8. Penggunaan Lahan di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

Penggunaan Lahan

Luas Ha

Prosentase

Lahan Kering

 

 

1

Hutan Negara

370.326

21,82

2

Perkebunan Negara

12.680

0,75

3

Pemukiman

207.042

12,20

4

Kebun Campur

176.533

10,40

5

Tegalan

181.132

10,67

6

Semak Belukar

23.431

1,38

7

Lain-Lain

9.648

0,57

 

Jumlah

980.792

57,78

Lahan Basah

 

 

1

Sawah Irigasi

505.829

29,80

2

Sawah tadah hujan

149.943

8,83

3

Tambak

42.394

2,50

4

Hutan Rawa

840

0,05

5

Rawa

725

0,04

6

Tubuh Air

16.963

1,00

 

Jumlah

716.693

42,22

 

Total

1.697.485

100,00

Sumber : Analisa Peta Penggunaan Lahan Skala 1 : 25.000 RBI (2000)

 

Dari analisa Tabel : 4.8 diatas penggunaan lahan diwilayah BPDAS Pemali Jratun terbagi kedalam dua kategori yaitu lahan kering seluas 980.792,33 ha atau 57,78% dan lahan basah seluas 716.692,61 ha atau 42,22%. Untuk lahan kering meliputi hutan negara, perkebunan negara, kebun campur, pemukiman, dan tegalan. Sedangkan untuk lahan basah terdiri dari tambak, hutan rawa, rawa-rawa, sawah irigasi, sawah tadah hujan dan tubuh air.

 

Penutupan Lahan

Penutupan lahan/vegetasi merupakan kondisi permukaan bumi yang menggambarkan kenampakan penutupan lahan dan vegetasi.

Penutupan Lahan di peroleh dari hasil Interpretasi Citra Landsat ETM7+ melalui proses klasifikasi. Metode yang dipergunakan adalah klasifikasi terbimbing (Supervised Classification). Sebelum melakukan proses klasifikasi terbimbing (Supervised Classification), terlebih dahulu dibuat Training Areanya (Signature) kemudian dideliniasi dengan menggunakan AOI tools sampel-sampel wilayah tiap kategori kelas yang akan diklasifikasi. Dari hasil klasifikasi diperoleh pembagian kelas dan luas area.

Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat E-TM7 tahun 2006. Dan hasil checking lapangan pada bulan Mei tahun 2009 kondisi penutupan lahan di wilayah BPDAS Pemali Jratun secara keseluruhan khusunya untuk daerah lahan kering adalah dalam kategori baik sekitar 42%, buruk 33%, sedang 19,92% sangat buruk 2,21% dan sangat baik 1,72%. Penutupan lahan yang masih baik pada umumnya pada daerah hutan sekunder yang merupakan kawasan hutan lindung dan pada sebagian kawasan hutan produksi yang kondisi tanamannya belum dilakukan penebangan.

Daerah yang penutupannya dalam kategori buruk berada pada daerah kawasan hutan yang bekas penjarahan dan habis dilakukan penebangan. Untuk diluar kawasan khusunya pada daerah pertanian lahan kering kondisi penutupannya juga termasuk buruk. Hal ini karena sedikit sekali dijumpai tanaman kayu-kayuan. Wilayah ini banyak dijumpai pada daerah pegunungan seperti pada daerah kawasan Dieng, dikaki dan lereng Gunung Slamet dan Gunung Merbabu. Tanaman sayur mayur sangat dominan dikawasan tersebut dan minim sekali dijumpai vegetasi permanen.

Pada daerah kebun campuran kondisi penutupan lahannya rata-rata baik, begitu juga pada lokasi kegiatan hutan rakyat yang belum ditebang. Kawasan ini banyak dijumpai di kabupaten Batang dan Pekalongan dengan kondisi hutan rakyat yang baik. Untuk lebih jelasnya kondisi penutupan lahan pada daerah lahan kering diwilayah BPDAS Pemali Jratun dapat dilihat pada Tabel : 4.9 berikut ini:

 

Tabel : 4.9. Kondisi Penutupan Lahan Kering di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

Kelas

Tutupan Lahan

Luas Ha

Prosentase

1. Sangat  Baik

>80%

16.862

1,72

2. Baik

61 – 80 %

420.177

42,84

3. Sedang

41 – 60 %

195.391

19,92

4. Buruk

21 – 40 %

326.645

33,3

5. Sangat. Buruk

<20 %

21.718

2,21

Sumber : Hasil Interpretasi Citra Landsat E-TM7 tahun 2006. Dan ceking lapangan tahun 2009

 

Produktivitas Lahan

Tingkat Produktivitas beberapa komoditi di Wilayah BPDAS Pemali Jratun yang ditanam pada kawasan budidaya pertanian pada umumnya tergolong Tinggi dengan rata-rata 75,99 % dari produksi optimal, sedangkan terendah 41% dari produksi optimal.

Tabel : 4.10. Tingkat Produktivitas lahan di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Produktivitas

Luas Ha

(%)

Sebaran

1

Sangat Rendah

26.027

1,5

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Grobogan, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang dan Sragen

2

Rendah

53.955

3,2

Meliputi sebagian kabupaten  Batang, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang dan Sragen.

3

Sedang

192.190

11,3

Meliputi sebagian kabupaten  Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Rembang, Semarang, Sragen dan Temanggung

4

Tinggi

637.398

37,5

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

5

Sangat Tinggi

787.915

46,4

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

 

Jumlah

1.697.485

100

 

Sumber : Analisa Peta Land System dan survei lapangan Wilayah BPDAS Pemali Jratun tahun 2009

 

Manajemen Lahan

Kondisi pengelolaan lahan di Wilayah BPDAS Pemali Jratun sekitar 1.015.163 Ha atau 59,8% dari luas wilayah termasuk Baik. Pada kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani pada umumnya baik, dengan adanya tata batas dan penyuluhan oleh petugas walau tingkat penyerobotan dan pencurian kayu masih tetap ada. Pengelolaan lahan di luar kawasan hutan yaitu pada kawasan lindung dan kawasan budidaya pertanian pada umumnya sedang, pembuatan teras pada lahan yang memerlukan terasering banyak dilakukan oleh masyarakat walaupun masih belum sempurna.

Tabel  : 4.11. Keadaan Manajemen di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Manajemen

Luas Ha

(%)

Sebaran

1

Baik

1.015.163

59,8

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

2

Sedang

651.284

38,37

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

3

Buruk

31.037

1,83

Meliputi sebagian kabupaten  Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

 

Jumlah

1.697.485

100

 

Sumber : Analisa Peta Land System dan survei lapangan Wilayah BPDAS Pemali Jratun tahun 2009

 

Erosi Tanah

Erosi tanah adalah penyingkiran dan pengangkutan bahan dalam bentuk larutan atau suspensi dari tapak semula oleh pelaku berupa air mengalir (aliran limpasan), es bergerak atau angin (tejoyuwono notohadiprawiro, 1998: 74). Menurut G. kartasapoetra, dkk (1991: 35), erosi adalah pengikisan atau kelongsoran yang sesungguhnya merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan angin dan air, baik yang berlangsung secara alamiah atau pun sebagai akibat tindakan atau perbuatan manusia. Pemindahan atau pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami berupa air dan angina. Misalnya erosi didaerah beriklim basah, faktor yang berperan penting adalah air sedangkan angina tidak berarti.

Dua sebab utama terjadinya erosi adalah karena sebab alamiah dan aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena adanya pembentukan tanah dan proses yang terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Sedangkan erosi karena aktivitas manusia disebabkan oleh terkelupasnya lapisan tanah bagian atas akibat cara bercocok tanam yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah atau kegiatan pembangunan yang bersifat merusak keadaan fisik tanah (chay asdak, 1995: 441).

Suatu model parametrik untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah telah dikembangkan oleh wischmeier & smith (1965, 1978) dinamakan the Universal Soil Loss Equation (USLE). Usle memungkinkan perencana menduga laju rata-rata erosi suatu tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang mungkin dilakukan atau yang sedang dipergunakan. Persamaan yang dipergunakan mengelompokkan berbagai parameter fisik dan pengelolaan yang mempengaruhi laju erosi ke dalam lima peubah utama yang nilainya untuk setiap tempat dapat dinyatakan secara numerik. Persamaan usle adalah sebagai berikut:

A :     R.K.LS.C. P

A :     banyaknya tanah tererosi dalam ton per hektar pertahun.

R :     faktor curah hujan dan aliran permukaan, yaitu jumlah satu indeks erosi hujan, yang merupakan perkalian antara energi hujan total (E) dengan intensitas hujan maksimum 30 menit (I 30).

K :     faktor erodibilitas tanah yaitu laju eosi per indeks erosi hujan (R) untuk suatu tanah yang didapat dari petak percobaan standar, yaitu petak percobaan yang panjangnya 72,6 kaki (22 m) terletak pada lereng 9% tanpa tanaman.

LS :  faktor panjang lereng dan kecuraman lereng. Faktor panjang lereng yaitu nisbah antara besarnya erosi dari tanah dengan suatu panjang lereng tertentu terhadap erosi dari tanah dengan p[anjang lereng 72,6 kaki (22 m) di bawah keadaan yang identik. Sedangkan faktor kecuraman lereng, yaitu nisbah antara besarnya erosi yang terjadi dari suatu tanah kecuraman lereng tertentu, terhadap besarnya erosi dari tanah dengan lereng 9% di bawah keadaan yang identik.

C :     faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman yaitu nisbah antara besarnya erosi dari suatu areal dengan vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman tertentu terhadap besarnya erosi dari tanah yang identik danpa tanaman.

P :    faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah, yaitu nisbah antara besarnya erosi dari tanah yang diberi perlakuan tindakan konservasi khusus seperti pengolahan menurut kontur, penanaman dalam strip atau teras terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah searah lereng dalam keadaan yang identik.

 

Kondisi Tingkat Bahaya Erosi di wilayah BPDAS Pemali Jratun berdasarkan hasil analisa USLE untuk Kategori Sangat Berat sekitar 12%, Berat 7%, Sedang 21%, Ringan 23% dan Sangat Ringan 37% dari total luas wilayah. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.12.

 

Tabel  : 4.12. Tingkat Bahaya Erosi di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Erosi Tanah

Luas Ha

(%)

Sebaran

1

Sangat Ringan

628.352

37,02

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang dan Tegal

2

Ringan

395.673

23,31

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

3

Sedang

352.647

20,77

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

4

Berat

118.724

6,99

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

5

Sangat Berat

202.088

11,91

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

 

Jumlah

1.697.485

100

 

Sumber : Analisa USLE Wilayah BPDAS Pemali Jratun tahun 2009

 

Penutupan Batuan

Penutupan Batuan atau singkapan batuan merupakan prosentase permukaan tanah yang tertutup oleh batuan. Bila permukaan tanah banyak tertutup  oleh batuan menandakan bahwa tanah tersebut sudah sulit untuk di tanami khususnya untuk tanaman keras. Walaupun bisa tumbuh, namun  akan sulit untuk berkembang. Hal ini karena perakaran yang tidak bisa menembus kedalam Tanah sehingga mudah sekali tumbang. Oleh karena itu indikator penutupan batuan dijadikan sebagai parameter penentu tingkat kekritisan lahan.

Untuk  kondisi penutupan batuan diwilayah BPDAS Pemali Jratun masih relatif sedikit. Hanya pada daerah perbukitan dan pegunungan yang permukaan tanahnya tertutup batuan dalam kategori sedang. Sedangkan untuk kategori banyak hanya dijumpai di kabupaten jepara dan relatif kecil luasannya yaitu sekitar 108 Ha atau (0.01%. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

 

Tabel : 4.8. Jenis Tanah di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Penutupan

Luas Ha

(%)

Sebaran

1

Banyak

108

0,01

Meliputi sebagian kecil kabupaten Jepara

2

Sedang

530.906

31,28

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus,   Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

3

Sedikit

1.166.470

69,71

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus,  Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

 

Jumlah

1.697.485

100,00

 

Sumber : Analisa Peta Land System Skala 1 : 250.000 Provinsi Jawa Tengah dan survei lapangan

 

Fungsi Kawasan

Berdasarkan fungsi kawasan wilayah BPDAS Pemali Jratun sebagian besar merupakan kawasan budidaya pertaniana seluas  1.266.890,45 Ha (74,65 %). Kawasan Hutan Produksi seluas  325.494,13 Ha (19,18%), Kawasan Lindung di luar kawasan seluas  58.373,76 Ha (3.44 %) dan Kawasan Hutan Lindung seluas  46,726.59 Ha (2,75%). Selengkapnya tersaji pada tabel 4.13 berikut ini:

 

Tabel  : 4.13. Fungsi Kawasan di Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No

Fungsi

Luas Ha

(%)

Sebaran

1

Kawasan Budidaya Pertanian

1.290.867

76

Meliputi sebagian kabupaten Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

2

Kawasan Hutan Lindung

45.098

3

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Jepara, Kendal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Tegal dan Temanggung

3

Kawasan Hutan Produksi

650.968

39

Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

4

Kawasan Lindung diluar Kawasan

59.945

4

Meliputi sebagian Batang, Boyolali, Brebes, Jepara, Kendal, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Semarang, Tegal dan Temanggung

 

Jumlah

1.697.485

100

 

Sumber : Analisa Peta Arahan Fungsi Pemanfaatan Lahan dan Peta Kawasan Hutan Wilayah BPDAS Pemali Jratun tahun 2009

 

Artikel Terkait:

relatedArticles
 

Iklan